Surat untuk Bapa
Bapa Bapa…
Anak kecil berlari menghampiri Bapanya.
Bapa Bapa…
Aku mau cerita.
Bapa hanya menatapku sambil tersenyum.
Bapa, aku sangat sedih…
Bapa tak menjawab hanya menatap dengan lembut.
Bapa, wanita yang padanya aku Kau titipkan.
Wanita itu semakin menjauh…
Saat bersamanya sekalipun aku tak merasa seperti dulu
Bapa, sudah lama sejak pelukan terakhirnya.
Wanita itu bahkan tak tahu aku sakit.
Wanita itu bahkan menyakitiku.
Hatiku sakit olehnya dan aku hanya bisa menangis di kamarku.
Bapa, aku tahu sekalipun aku meminta dunia,
bahkan seluruh alam semesta ini aku diberikannya padaku.
Bapa, tapi aku tak mau itu.
Aku sakit dan marah sampai aku tak lagi bisa berbicara padanya.
Bapa Bapa, Kau bilang aku boleh memohon padaMu.
Bapa permohonanku tak banyak namun sangat berarti.
Aku ingin meminta wanita itu kembali.
Memintanya bersamaku tanpa diganggu waktu,
juga tak diburu siang dan malam.
Dan jika boleh, Bapa…
Aku minta pelukannya lagi.
Bapa Bapa…jangan cuma tersenyum.
Bapa, aku bersungguh-sungguh.
Bapa Bapa, aku lelah menangis (anak kecil itu menguap)
Sebelum anak kecil itu memejamkan mata dia hanya melihat senyuman Bapa lagi.
Kemudian terlelap karena letih.
Sesaat tersenyum, ada perasaan hangat sebuah pelukan.
Pelukan yang ia cari-cari…
Anak kecil itu ingin sekali mencari tahu.
Dekapan Bapakah atau wanita yang ia rindu?
Tapi kemudian ia merubah pikirannya,
ia tak ingin bangun.
Ia ingin tetap merasakannya hangatnya pelukan penuh kasih.
Ia takut saat ia bangun,
rasa hangat itu lenyap…
Sekalipun ini hanya imajinasi dari jiwanya yang merindukan wanita itu,
baginya tak mengapa…
Trimakasih Bapa.
Teruntuk wanita yang kusayang suatu hari ingin kuungkap sakit hatiku dan bahwa aku tak pernah benar marah padanya dan juga aku teramat sangat menyayanginya…Semoga tak pernah ada kata terlambat apalagi menyesal.