Fatamorgana
Fatamorgana, demikian aku menyebutnya. Pandangannya mendadak berubah dan tak dapat kumengerti dan mungkin bagi orang lain yang mendengar ceritanya. Ia telah merasakan nikmatnya cinta dan nafsu. Namun di atas segalanya aku melihat kebesaran egonya. Ia tak lagi peduli akan keluarga yang dipercaya tidak pernah mengerti. Aku tak ingin berurusan dengan jodoh dan takdir. Begitu gampang ia percaya seseorang yang baru beberapa bulan dikenalnya sekalipun tahu bahwa ia pernah dibohongi. Bagaimana mungkin ia kembali percaya pada orang yang begitu menyakitinya. Jatuh cintakah ia atau ia hanya ingin memiliki seseorang karena merasa terbuang? “Aku takut kehilangan.” Lalu ia tega membuang orang-orang yang selama ini merawatnya yang memang mendidiknya dengan sangat keras. Ia kemudian tak sekedar menyakiti orang-orang terdekatnya dengan perbuatan yang ditutupinya dengan sempurna, bahkan ia sakiti dirinya sendiri. Setelah aku pikir ia tak hanya kehilangan rasa percaya pada keluarganya tapi iapun telah melupakan Dia. Aku sudah berusaha membuka lebar mataku, penasaran aku ingin melihat apa yang ia lihat. Aku begitu marah kenapa dirinya pun ia bohongi. “Aku tahu apa yang aku lakukan memang salah dan tidak bisa dimengerti oleh logika.” Jelas ia buta, ia tak tahu apa yang sedang ia lakukan sedang mengikis akal sehatnya dan rasa sayangnya terhadap keluarganya. Terlebih aku marah karena aku tak dapat membantunya dan hanya bisa melihatnya terus jatuh terluka, kehilangan arah serta pegangan. Setiap dia mengeluh seakan aku ingin menamparnya dengan keras. Tapi aku sadar tamparan sekeras apapun tak akan bisa membangunkannya dari lamunan FATAMORGANA.
